“Mengelola Sampah demi Hidup Sehat”

Seluruh siswa/i SMP Strada Bhakti Mulia kelas VII dan VIII mengadakan kegiatan belajar di luar (Studi lapangan), pada hari Rabu, 27 Maret 2019 mulai Pk. 09.00 – 12.00 WIB. Tempat yang dijadikan untuk tempat belajar adalah TPA Rawa Kucing. TPA Rawa Kucing merupakan tempat pembuangan akhir dari sampah-sampah yang berasal dari seluruh penduduk sekitar,khususnya daerah Tangerang.

Perjalanan dari SMP Strada Bhakti Mulia menuju TPA Rawa Kucing sekitar 30 menit, dengan menggunakan angkutan umum. Sepanjang perjalanan, secara garis besar kami bertanya-tanya tentang situasi TPA Rawa Kucing, apa yang akan dipelajari dan apa yang akan diingat dari tempat tersebut. Setibanya di lokasi, seluruh siswa/i beserta guru-guru pendamping diarahkan untuk berkumpul di lapangan. Abang Boy sebagai Narasumber berkaitan dengan TPA Rawa Kucing, menjelaskan banyak hal yang berkaitan dengan Rawa Kucing, cara memilah sampah, cara mengelola sampah (daur ulang sampah). setelah dijelaskan oleh beliau, akhirnya pertanyaan-pertanyaan yang tadinya menumpuk di dalam pikiran, terjawab juga. Banyak hal yang dijelaskan yang sangat berguna untuk diterapkan di keluarga, sekolah dan di masyarakat berkaitan dengan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

TPA Rawa Kucing ternyata tidak sekumuh yang dibayangkan banyak orang pada umumnya. TPA Rawa Kucing dahulu memang sangat tidak terkelola, tetapi sekarang sudah jauh berbeda. TPA Rawa Kucing sekarang sangat tertata rapi, bahkan sudah menjadi tempat belajar bagi anak-anak ataupun siapa saja yang ingin belajar banyak tentang pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Khusus untuk sampah yang belum dikelola, ada tempat khusus, yang dikenal dengan sebutan “Bukit Sampah.”

Berkaitan dengan pemilahan sampah, Abang Boy juga menjelaskan bahwa tempat sampah sebaiknya ada tiga dengan warna yang berbeda-beda. Satu untuk sampah organik (Sisa saluran, sisa makanan, sisa buah-buahan ataupun daun-daunan kering), satu untuk sampan non organik (Botol plastic, kertas, kardus, dan yang sulit terurai), satu untuk tempat sampah B3 (Pampers, Bohlam, Oli, atu Baterai, Kaleng Cat/ Tiner,dll). Abang Boy mengajak agar sejak dini, anak diajarkan bagaimana cara menjaga kebersihan dan memilah sampah. selain itu, beliau jgua sangat menganjurkan agar di sekolah ada “Biopori” karena akan sangat berguna untuk mengurangi sampah organik, menyuburkan tanah, membantu mencegah terjadinya banjir dan dapat mempengaruhi jumlah air tanah. Oh ya, satu hal yang penting juga. Kalau membakar sampah, asap bakaran tidak boleh dihirup, karena dapat menyebabkan penyakit kanker dan dapat merusak paru-paru.

 

Begitu banyak pelajaran dan informasi yang kami peroleh. Tidak perlu jauh-jauh untuk belajar, karena di sekitar kita juga banyak tempat yang dapat dijadikan tempat belajar.Terima kasih Abang Boy, sudah mengajarkan dan menjelaskan banyak hal kepada kami tentang sampah dan cara mengelola sampah yang ramah lingkungan.

Mari kita bersama-sama belajar memilah sampah, belajar mengegloa sampah dan pastinya belajar mengurangi penggunaan plastik yang dapat merugikan diri kita sendiri dan alam ciptaan Tuhan. “Peduli mengelola sampah demi Hidup Sehat.”

Sebarkan artikel ini